“Shutdown” Pemerintah AS, Investor Tak Terpengaruh

Oleh Hussein Sayed, Chief Market Strategist FXTM

AS memasuki hari ketiga penutupan (shutdown) pemerintahan setelah Kongres AS gagal mencapai kesepakatan anggaran jangka pendek. Walaupun situasi ini menjadi pembahasan besar di media, namun investor sepertinya tidak terlalu khawatir atas dampaknya terhadap investasi. Aksi harga di sebagian besar kelas aset menyiratkan bahwa pasar finansial semakin kebal menghadapi drama politik AS.

 

Walaupun penutupan ini kemungkinan dapat memberi dampak terhadap pertumbuhan karena penurunan belanja, namun dampaknya terhadap PDB sangat bergantung pada durasi penutupan itu sendiri. Menurut Standard & Poor’s, terakhir kali pemerintah AS mengalami shutdown pada tahun 2013 selama 16 hari, ekonomi AS harus kehilangan $24 miliar. Dengan kata lain, PDB Q1 dapat menurun sekitar 0.3% rata-rata untuk setiap pekan pemerintah mengalami shutdown.

 

Saham Asia sedikit melemah di hari Senin, namun mengingat Yen dan emas stabil pada saat laporan ini dituliskan, trader sepertinya menduga drama akan segera berakhir. Kita tidak tahu apakah Demokrat dan Republik akan mengeluarkan undang-undang jangka pendek hari ini agar pemerintahan dapat berjalan.

 

Pemerintah Jerman sepertinya semakin dekat dengan pembentukan koalisi setelah Demokrat Sosial memilih untuk memasuki diskusi koalisi resmi. Euro menguat pada awal sesi hari ini namun kehilangan sebagian besar peningkatan ini beberapa jam setelahnya. Meninjau hanya 56% dari SPD yang memberi suara untuk mendukung diskusi, masih ada risiko penolakan kesepakatan koalisi final yang mungkin membatasi peningkatan Euro pada saat ini.

 

Pergerakan paling menarik di pasar hari ini adalah imbal hasil obligasi treasury 10 tahun AS yang melampaui 2.67% untuk pertama kalinya sejak Juli 2014. Ini mengantarkan imbal hasil 10 tahun AS – Jerman menjadi 208 bps setelah merosot ke 198 bps pada 16 Januari. Saya meyakini bahwa Dolar AS agak segera mendapat untung dari peningkatan spread ini, terutama apabila ECB menurunkan imbal hasil obligasi Eropa dalam rapat hari Kamis.

 

Bank of Japan juga dijadwalkan untuk menggelar rapat pekan ini. Kedua bank sentral ini diprediksi tidak akan membuat perubahan kebijakan. BoJ akan mempertahankan suku bunga kebijakan di -0.1% dan JGB 10 tahun di 0%. ECB akan mempertahankan suku bunga acuan di 0%, suku bunga kredit marginal di 0.25%, dan suku bunga deposito di -0.4%. Walaupun notulen terbaru ECB mengisyaratkan bahwa para pembuat kebijakan akan membuat penyesuaian pada awal 2018, saya rasa kinerja Euro yang kuat akan menjadi perhatian mereka. Karena itu, saya memperkirakan Mario Draghi akan menekankan kembali bahwa suku bunga tidak akan ditingkatkan hingga setelah akhir program pembelian aset.

 

Rupiah melemah terhadap Dolar

Sebagian besar mata uang pasar berkembang Asia tertekan di hari Senin karena Dolar mencoba bangkit dari level terendah tiga tahun.

 

Rupiah melemah terhadap Dolar pada sesi perdagangan hari Senin. USDIDR berada di kisaran 13347 pada saat penulisan. Walaupun Rupiah mungkin melemah terhadap Dolar di jangka pendek, namun penurunan ini akan terbatas karena risiko politik di Washington. Perhatian akan tertuju pada laporan investasi langsung asing di hari Selasa yang mungkin menjelaskan seberapa banyak investasi asing yang masuk ke Indonesia pada kuartal terakhir 2017. Peningkatan investasi akan mengangkat optimisme terhadap ekonomi Indonesia, memperkuat Rupiah, dan juga IHSG.

 

 

Untuk informasi selengkapnya, kunjungi: ForexTime